SMAN 1 Larantuka Berkarya Dalam Buku Menjelajah Kapela yang Terlupakan

SMA NEGERI 1 LARANTUKA | Berita - Patut diapresiasi terhadap hasil karya dari generasi milineal peserta didik SMAN 1 Larantuka, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Ditengah derasnya arus globalisasi saat ini, mereka mampu menciptakan buku dengan judul Menjelajah Kapela yang Terlupakan, sejarah dan tradisi gereja.

Hasil karya ilmiah yang memakan waktu, tenaga ini dimanfaatkan maksimal oleh para siswa-siswi kelas XI IPA .

Buku ini adalah karya dan project pembelajaran dari siswa dan siswi serta guru Agama Katolik di SMA Negeri 1 Larantuka.

Demi penyempurnaan atas hasil karya para generasi Flores Timur ini, para siswa serta guru melakukan diskusi panel dengan menghadirkan narasumber-narasumber seperti budayawan, tokoh adat dan juga Rohaniwan yang ada di Kabupaten Flores Timur.

Kepala SMAN 1 Larantuka Yakobus Milan Bethan dalam sambutannya saat membuka acara diskusi ilmiah penyempurnaan buku hasil karya anak-anak SMAN 1 mengatakan, atas bimbingan para guru ada kemajuan yang luar biasa dari siswa – siswi dalam menulis hal-hal yang bersifat ilmiah.

Yakobus Milan Bethan, Kepala SMAN 1 Larantuka. (Foto/Tarwan/ FP)

“Kegiatan ekstra kurikuler ilmiah remaja tidak difokuskan lagi di kelas, tetapi siswa dituntut untuk melakukan penelitian,” katanya.

Dirinya mengharapkan dengan terbitnya buku pertama ini akan ada lagi terbitan buku yang berikut melalui hasil karya anak-anak SMAN 1 Larantuka dengan melihat masih banyaknya objek wisata yang perlu masih didalami seperti Benteng Lohayong di pulau Solor.

Sementara itu Gregorius Riberu guru agama Katolik sekaligus sebagai pembimbing disela-sela diskusi tersebut mengatakan, munculnya ide dari pembuatan buku ini dilihat dari segi agama dan pendidikan.

“Berbicara tentang konteks agama, bagaimana target kita menjadikan mereka (siswa-red) sebagai pewarta-pewarta yang militan. Maka tema APP Keuskupan Larantuka tidak hanya sebatas konsep, tetapi juga bagaimana kita mengimplementasikan tema itu dalam sebuah pembelajaran di sekolah, ” kata Gregorius, Sabtu (18/5/2019).

Untuk itu dikatakan Gregorius, siswa dan siswi akan mengenal baik bagaimana tradisi dan budaya yang juga dapat mempengaruhi refleksi iman mereka sendiri.

Dari segi pendidikan dikatakannya, pembelajaran itu tidak selamanya berpusat dalam lingkup sekolah, yang menurut dia para siswa dan siswi terkurung dalam kelas dengan waktu yang cukup lama.

“Maka bagaimana kita mengembangkan ilmu itu harus lebih luas. Bagaimana caranya, ya kita membuat pembelajaran-pembelajaran di luar kelas. Sehingga mereka mengalami langsung sebuah situasi yang nyata tentang apa yang telah mereka terima di dalam kelas,” ungkapnya.

Pada prinsipnya Gregorius menambahkan, sebagai seorang guru Ia akan tetap senantiasa mendorong apa yang menjadi potensi dalam diri setiap siswa dan siswi di Sekolah untuk selalu berkembang.

Gregorius juga mengakui adanya tingkat kesulitan dalam pemilihan judul untuk buku tersebut.

Dikatakan nya pemilihan judul sendiri tidak atas kemauan satu orang melainkan melalui diskusi panjang juga melalui presentasi bersama dengan salah seorang penulis yang ada di lembaga SMAN 1 Larantuka.

“Kami merasa bahwa dengan pemilihan judul ini tidak bermaksud mengatakan bahwa Kapela-kapela lain terabaikan atau dilupakan, justru disini kami lebih kepada mengenalkan. Fakta sekarang adalah banyak dari kita belum mengenal baik dari sekian banyak Kapela-kapela yang ada di kota Larantuka selain tiga Kapela besar seperti Kapela Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Meninu,” katanya.

Untuk itu Dirinya mengatakan sejarah tidak untuk dilupakan, setiap hal akan menjadi sejarah. Oleh karena itu dirinya mengajak agar setiap orang selalu meninggalkan benih-benih yang baik agar dapat bertumbuh dan berguna untuk setiap orang.

Diapresiasi Narasumber

Buku hasil karya dari anak – anak SMAN 1 Larantuka ini mendapat apresiasi dari narasumber yang hadir dalam diskusi ilmiah untuk penyempurnaan penulisan buku Menjelajah Kapela yang terlupakan, sejarah dan tradisi gereja.

Selain diapresiasi langsung oleh pembicara RD, Eduardus Jebarus, Rofinus Nara Kean, Bernard Tukan, Yakob Dere Boang, Yohanes Emi Kein, apresiasi juga datang dari pembicara Silvester Witin.

Silvester mengatakan, para siswa-siswi sudah mengaplikasikan Kurikulum 2013 (K13), yang mana lanjutnya, metode yang paling banyak digunakan adalah metode Scientific.

“Siswa tidak hanya terpaku di dalam kelas, tetapi siswa terjun ke tengah masyarakat melihat realita yang ada di masyarakat lalu dari realita itu, mereka bawa masuk ke ruangan belajar untuk dibedah kembali sehinga disitu ada aplikasi untuk mereka,” katanya.

Khsusus untuk materi ini kata Silvester Witin, dengan sendirinya menumbuhkembangkan nilai iman untuk anak – anak yang beragama Katolik dan juga tidak menutup kemungkinan kata dia untuk siswa-siswi yang beragama lain agar bisa belajar untuk bertoleransi.

“Ini bisa menjadi acuan untuk anak-anak dari agama lain sehingga mereka tauh keberadaan dari Kapela-kapela di kota Larantuka,” katanya.

Ditempat yang berbeda ketua Osis SMAN 1 Larantuka, Yosefina Natalia Da Gomez mengungkapkan kebanggaannya atas hasil karya yang telah dicapai oleh teman-temannya melalui buku Menjelajah Kapela yang Terlupakan.

“Saya melihat betapa besar perjuangan mereka dalam melaksanakan proses penelitian dengan turun langsung ke lokasi dan melakukan wawancara dengan narasumber dan tetua nagi. Mereka sangat bijaksana dalam membagi waktu untuk belajar dan untuk bertemu narasumber,” ungkapnya.

Dikatakan siswi yang sering disapa Jini Da Gomez ini, kegiatan diskusi panel hari ini adalah sebagai motivasi yang luar biasa untuk masyarakat khususnya untuk kalangan remaja sendiri.

“Karena pada kenyataannya jarang sekali remaja zaman sekarang yang mau meluangkan waktu untuk hal-hal seperti ini,” kata Jhini.

Melalui kegiatan seperti ini Ia mengharapkan, semoga SMAN 1 Larantuka terus berkarya dan selalu menghasilkan hal-hal baru.

“Semoga remaja Katolik yang ada di Kabupaten Flores Timur terus berkembang dan menghasilkan hal baru dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan guna memperkenalkan kekatolikan kota Larantuka,” harapnya.